Beranda

Cari di sini

Selamat Datang di Blog PGRI Cabang Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Senin, 19 Juli 2010

Pentingnya Menghargai Perasaan Orang Lain


Suatu ketika di jaman Rossululloh SAW, ada seorang yang demikian membenci beliau. Saking bencinya maka setiap hari dia menghadang Rosululloh di jalan yang akan dilalui beliau berangkat ke masjid. Maksud dia menghadang nabi bukan untuk uluk salam atau bertegur sapa, akan tetapi untuk meludahi Rosululloh ketika beliau lewat di jalan tersebut.
Setiap saat nabi lewat di jalan itu, setiap saat itu pula ludah si Fulan keluar membasahi jubah Rosul. Seolah-olah sudah menjadi salah satu acara wajib yang harus dilakukan oleh si Fulan untuk selalu menghadang Rosul.
Alkisah, pada suatu hari ketika Sang Nabi lewat dijalan tersebut beliau menjadi terkejut ketika si Fulan tidak meludahi beliau. Jangankan meludah, batang hidungnya pun tidak tampak. Akhirnya Rosul bertanya kepada orang di sekitar jalan itu apa yang tengah terjadi dengan si Fulan.
Si Fulan hari itu tidak bisa keluar rumah karena sakit. Tubuhnya meriang, panas dingin, membuatnya hamper tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Tiba—tiba dia terkejut ketika terdengar ketokan dibarengi salam di pintu depan rumahnya. Fulan, dengan setengah berteriak bertanya,”Siapa?” terdengar jawaban dari luar. Lalu Fulan mempersilahkan tamunya untuk masuk, karena tidak bisa membukakan pintu.
Alangkah terkejut bagai mendengar suara petir di siang bolong hati si Fulan ketika melihat siapa yang dating. Dikejap-kejapkan matanya berkali-kali seolah tidak percaya dengan sosok yang berdiri di samping tempat tidurnya. Lalu tubuh Fulan menjadi tambah menggigil, bukan karena demamnya kumat tetapi akibat rasa takut yang tiba-tiba datang dipikirannya. Dengan terbata-bata Fulan bertanya,”Tuan, ada maksud apa tuan dating ke rumah saya. Apakah tuan ingin membalas dendam akibat perbuatan saya selama ini. Saat ini saya sedang sakit, tidak berdaya, sehingga tuan berani dating kesini.”
Sosok di samping tempat tidur Fulan berucap,”Saudaraku, aku dating untuk menjengukmu. Aku dengar engkau tengah terbaring sakit, ketika aku lewat dijalan tidak bertemu dengan kamu seperti biasanya.”
Hati si Fulan bergemuruh, sehingga tubuhnya bergetar menahan perasaan yang bergejolak di dadanya. Hatinya, jiwanya, pikirannya, seolah tersentuh oleh ribuan jarum yang telah terbenam dalam balok es. Ngilu, perih, malu, semua bercampur menjadi rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Fulan hanya sempat berujar,”Ya Rosul,alangkah mulianya engkau. Setiap hari aku telah menyakiti perasaanmu tetapi engkau tidak menjadikan hal  itu sebagai pemicu dendam. Bahkan ketika aku terbaring sakit, saat belum seorang pun dating menjenguk ternyata engkau menjadi orang yang pertama melihatku terbaring di dipan ini. Sungguh sangat mulia.”

Diambil dari berbagai sumber
Posted by: Estant Ramadhanu, guru SD Negeri 7 Gumelem Wetan, 17/07/2010
(Semoga kita selalu belajar dari kisah ini ketika tengah bersama pejuang-pejuang masa depan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentar anda tentang artikel / tulisan ini